top of page

Ketika Kekuasaan Membuat Kita Berhenti Mendengar

  • Jun 12
  • 4 min read


Belakangan ini saya sering memikirkan bagaimana keputusan-keputusan penting dibuat.

Bukan hanya di perusahaan, tetapi juga di berbagai organisasi dan institusi yang mempengaruhi kehidupan banyak orang.

Semakin lama saya mengamati, semakin saya menyadari bahwa banyak persoalan besar tidak selalu berawal dari kurangnya informasi, kurangnya data, atau kurangnya orang pintar di dalam ruangan. Sering kali persoalannya jauh lebih sederhana.

Orang-orang berhenti mendengar.

Atau lebih tepatnya, mereka masih mendengar, tetapi tidak lagi benar-benar mendengarkan.

Mereka masih meminta masukan. Masih mengadakan diskusi. Masih membuka ruang bagi orang lain untuk berbicara. Namun pada saat yang sama, mereka menjadi semakin selektif terhadap pendapat yang ingin diterima.

Pandangan yang sejalan dianggap dukungan. Pandangan yang berbeda dianggap hambatan.

Tanpa disadari, ruang diskusi yang seharusnya memperkaya perspektif perlahan berubah menjadi ruang untuk mengonfirmasi keyakinan yang sudah ada sebelumnya.

Dan ketika hal itu terjadi, kualitas keputusan biasanya mulai menurun.


Selama berkarir, saya semakin percaya bahwa pemimpin tidak sama dengan pimpinan.

Pimpinan adalah posisi.

Pemimpin adalah pilihan.

Seseorang dapat memperoleh jabatan melalui promosi, penunjukan, atau keputusan organisasi. Namun kepemimpinan tidak datang bersama surat keputusan tersebut.

Kepemimpinan terlihat dari cara seseorang menggunakan kewenangan yang dimilikinya.

Apakah kewenangan itu digunakan untuk memahami situasi dengan lebih baik?

Apakah digunakan untuk mendengar berbagai perspektif sebelum mengambil keputusan?

Ataukah digunakan untuk memastikan bahwa hanya satu perspektif yang mendominasi?

Menurut saya, salah satu ujian terbesar seorang pemimpin justru muncul ketika ia berada dalam posisi yang sangat kuat.

Ketika semakin sedikit orang yang berani tidak setuju.

Ketika semakin sedikit orang yang berani menyampaikan kabar buruk.

Ketika semakin sedikit orang yang berani mengatakan bahwa sebuah keputusan mungkin perlu dipertimbangkan kembali.


Pada titik itulah kualitas kepemimpinan yang sesungguhnya mulai terlihat.

Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, kemampuan mendengar menjadi semakin penting.

Hari ini tidak ada seorang pun yang memiliki seluruh jawaban.

Perubahan ekonomi, teknologi, regulasi, dan dinamika pasar bergerak terlalu cepat. Apa yang dianggap benar hari ini bisa saja berubah beberapa bulan kemudian.

Karena itu saya selalu merasa lebih nyaman bekerja dengan orang-orang yang masih bersedia mempertanyakan keyakinannya sendiri dibanding mereka yang merasa sudah memiliki seluruh jawabannya.

Bukan karena mereka kurang percaya diri.

Justru sebaliknya.

Mereka memahami bahwa keputusan yang baik lahir dari proses berpikir yang baik. Dan proses berpikir yang baik hampir selalu membutuhkan sudut pandang yang beragam.

Saya tidak melihat kalimat "saya belum tahu" sebagai kelemahan.

Saya justru melihatnya sebagai salah satu bentuk kedewasaan.

Mengakui bahwa kita belum memahami seluruh situasi sering kali jauh lebih sulit daripada berpura-pura terlihat yakin.


Ada satu hal lain yang menurut saya semakin penting dalam pengambilan keputusan, yaitu empati.

Kata ini mungkin tidak terlalu sering muncul dalam pembahasan mengenai strategi atau tata kelola. Namun dalam praktiknya, saya melihat empati sering kali menjadi pembeda antara keputusan yang sekadar dapat dibenarkan dan keputusan yang benar-benar bijaksana.

Saya sering melihat keputusan yang didukung oleh data, analisis, dan argumentasi yang kuat.

Namun tidak jarang, yang luput justru pertanyaan paling sederhana:

"Bagaimana keputusan ini akan mempengaruhi orang lain?"

Banyak keputusan yang secara teknis masuk akal.

Banyak keputusan yang secara finansial terlihat menarik.

Banyak keputusan yang mungkin dapat mencapai target yang diinginkan.

Namun kualitas sebuah keputusan tidak hanya ditentukan oleh apa yang berhasil dicapai. Kualitas keputusan juga ditentukan oleh bagaimana keputusan tersebut dibuat dan bagaimana dampaknya terhadap para pihak yang harus hidup dengan konsekuensinya.

Tidak semua keputusan akan menyenangkan semua orang. Itu tidak realistis.

Tetapi saya percaya setiap keputusan tetap perlu dibuat dengan mempertimbangkan berbagai perspektif secara adil, termasuk perspektif mereka yang paling terdampak.


Hal yang sama berlaku dalam tata kelola organisasi.

Selama ini banyak orang mengaitkan governance dengan struktur, komite, kebijakan, prosedur, atau laporan.

Semua itu memang penting.

Namun menurut saya, tata kelola yang baik pada akhirnya bukan diukur dari banyaknya dokumen atau jumlah rapat yang dilakukan.

Esensinya jauh lebih sederhana.

Apakah proses yang ada membantu organisasi menghasilkan keputusan yang lebih baik?

Apakah orang merasa aman untuk menyampaikan pandangan yang berbeda?

Apakah risiko dibahas secara terbuka?

Apakah pertanyaan yang tidak nyaman tetap boleh diajukan?

Atau sebaliknya, apakah proses hanya dijalankan karena memang harus dijalankan, sementara arah keputusan sebenarnya sudah ditentukan sejak awal?

Perbedaannya mungkin tidak selalu terlihat.

Namun dampaknya terhadap kualitas organisasi dalam jangka panjang bisa sangat besar.


Mungkin karena itu saya semakin percaya bahwa tantangan terbesar kepemimpinan saat ini bukanlah bagaimana terlihat paling yakin atau bagaimana selalu memiliki jawaban yang cepat.

Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana tetap terbuka ketika memiliki kekuasaan.

Bagaimana tetap mau mendengar ketika memiliki kewenangan untuk tidak mendengar.

Bagaimana tetap rendah hati ketika berada dalam posisi yang membuat orang lain segan untuk berbeda pendapat.

Dan bagaimana tetap mengingat bahwa setiap keputusan yang kita ambil hampir selalu mempengaruhi kehidupan orang lain, dalam tingkat yang berbeda-beda.

Pada akhirnya, tidak ada pemimpin yang akan selalu benar.

Tidak ada organisasi yang akan selalu mengambil keputusan yang sempurna.

Namun saya percaya banyak kesalahan dapat dihindari apabila kita tetap menjaga rasa ingin tahu, tetap bersedia mendengar, dan tetap terbuka terhadap kemungkinan bahwa pandangan kita sendiri belum tentu yang paling benar.

Karena sering kali masalah tidak dimulai ketika seseorang memiliki terlalu banyak kekuasaan.

Masalah dimulai ketika kekuasaan membuatnya berhenti mendengar.

 
 
 

Comments


© Train of Thought of Angela Simatupang. 

bottom of page