Tidak Semua Hal Harus Bergerak Cepat
- 1 day ago
- 4 min read
Dalam banyak organisasi hari ini, kecepatan mulai dianggap sebagai indikator kompetensi.
Respons harus cepat. Keputusan harus cepat. Transformasi harus cepat.
Tekanan untuk bergerak cepat datang dari berbagai arah sekaligus — perkembangan teknologi, dinamika pasar, ekspektasi investor, perubahan regulasi, hingga tuntutan untuk terus terlihat relevan di tengah kompetisi yang semakin agresif. Dalam beberapa tahun terakhir, saya melihat organisasi semakin terbiasa hidup dalam mode percepatan.
Tidak ada yang salah dengan agility. Organisasi memang tidak bisa bergerak terlalu lambat di tengah perubahan yang semakin cepat. Tetapi saya juga mulai melihat konsekuensi lain yang jarang dibahas secara terbuka: semakin sedikit ruang untuk benar-benar berpikir secara mendalam.
Keputusan strategis dibahas dalam waktu yang semakin singkat, dengan kompleksitas yang justru semakin tinggi. Tidak jarang, bahan untuk keputusan penting baru diterima beberapa jam sebelum rapat dimulai. Agenda padat. Ekspektasi untuk segera mengambil keputusan tetap tinggi. Sementara ruang untuk mendalami asumsi, risiko, atau konsekuensi jangka panjang semakin terbatas.
Diskusi akhirnya lebih banyak berfokus pada apa yang harus segera diputuskan, dibanding apa yang sebenarnya masih perlu dipahami lebih dalam.
Dalam situasi seperti ini, governance sering kali tetap terlihat berjalan dengan baik secara formal. Struktur ada. Komite ada. Persetujuan ada. Dokumentasi lengkap. Tetapi kualitas challenge dan kedalaman deliberasi perlahan bisa mulai berubah.
Saya rasa salah satu tanda awal kualitas deliberasi mulai menurun adalah ketika terlalu banyak orang terlalu cepat mengatakan setuju.
Bukan berarti semua harus berbeda pendapat. Tetapi organisasi yang sehat biasanya tetap memiliki ruang untuk challenge, disagreement, dan pertanyaan yang belum tentu nyaman.
Saya justru semakin sering melihat kecenderungan untuk menjaga kenyamanan ruang rapat. Ada situasi di mana orang tidak benar-benar memberikan perspektif baru, tapi hanya mengulang pandangan orang sebelumnya dengan bahasa yang berbeda. Dalam beberapa forum, dinamika diskusi kadang lebih didorong oleh kebutuhan untuk terlihat terlibat dibanding benar-benar memperkaya kualitas deliberasi. Ruang rapat penuh percakapan, tetapi tidak selalu menghasilkan challenge atau perspektif baru yang substantif.
Kadang ada kebutuhan untuk terlihat terlibat dalam proses, meskipun kontribusi yang diberikan belum tentu benar-benar memperkaya kualitas diskusi. Kadang juga ada kecenderungan untuk cepat menyetujui agar proses segera bergerak maju, atau sekadar untuk menghindari friksi yang dianggap tidak perlu.
Hal-hal seperti ini terlihat kecil. Tetapi dalam jangka panjang, budaya seperti ini dapat memengaruhi kualitas judgment organisasi secara perlahan.
Dalam beberapa situasi, keputusan bahkan sebenarnya sudah mengarah ke satu titik sebelum forum diskusi dimulai. Rapat tetap berjalan. Governance tetap terlihat lengkap. Tetapi fungsi forum perlahan berubah — bukan lagi untuk menguji kualitas keputusan secara mendalam, melainkan lebih untuk mempercepat legitimasi atas keputusan yang pada dasarnya sudah terbentuk sebelumnya.
Dan justru di titik seperti itulah governance dapat mulai kehilangan fungsi substantifnya.
Semakin sophisticated struktur governance sebuah organisasi, semakin besar pula risiko organisasi merasa governance sudah otomatis berjalan dengan baik.
Padahal governance yang benar-benar efektif tidak hanya bergantung pada struktur, policy, atau jumlah forum yang dimiliki organisasi. Yang jauh lebih menentukan sering kali adalah kualitas judgment, keberanian untuk men-challenge, dan kemampuan institusi menjaga integritas pengambilan keputusan ketika tekanan mulai meningkat.
Dan tekanan organisasi hari ini memang jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya.
Senior executives menghadapi tekanan target, kompetisi, profitabilitas, perubahan teknologi, cyber risk, dinamika geopolitik, tuntutan regulator, hingga ekspektasi publik yang berubah sangat cepat. Dalam kondisi seperti itu, keinginan untuk bergerak cepat menjadi sangat bisa dipahami.
Kadang keputusan dipercepat karena organisasi merasa harus segera bergerak. Kadang karena topik dianggap tidak terlalu penting untuk diperdebatkan terlalu lama. Kadang juga karena orang tidak ingin proses menjadi terlalu rumit atau terlalu banyak konflik.
Tetapi justru dalam situasi seperti itulah kualitas governance sebenarnya diuji.
Dalam pengalaman saya, keputusan besar jarang gagal hanya karena kurangnya intelligence atau kurangnya data. Banyak organisasi sebenarnya sudah memiliki resource, expertise, bahkan advisor yang baik. Masalahnya sering kali muncul karena organisasi tidak memberi cukup ruang untuk challenge, terlalu permissive terhadap execution yang lemah, atau memiliki target yang sejak awal sebenarnya tidak realistis tetapi tidak pernah benar-benar dipertanyakan.
Yang paling sulit dipertahankan ketika organisasi berada dalam tekanan atau fase pertumbuhan cepat sering kali bukan strategi. Melainkan disiplin terhadap nilai, integritas, dan prinsip yang sebelumnya justru membentuk identitas organisasi tersebut.
Ada organisasi yang ingin tumbuh besar dengan sangat cepat, tetapi perlahan mulai mentoleransi hal-hal yang sebelumnya tidak dianggap acceptable. Dalam jangka pendek mungkin terlihat efektif. Tetapi lama-kelamaan organisasi tersebut bisa menjadi institusi yang berbeda dari nilai awal yang dulu mereka banggakan.
Karena itu, menurut saya organisasi yang dewasa bukan hanya organisasi yang terlihat sophisticated secara struktur atau presentasi. Organisasi yang dewasa biasanya tetap mampu memegang teguh value dan kualitas judgment-nya bahkan ketika berada di bawah tekanan.
Mereka tidak selalu bergerak paling cepat. Tetapi mereka memahami bahwa tidak semua keputusan harus diperlakukan seperti sprint.
Mereka juga memahami bahwa decisive tidak selalu berarti cepat.
Kadang justru dibutuhkan keberanian untuk mengatakan:“kita perlu memahami ini lebih dalam”atau“saya belum yakin.”
Dan saya rasa kemampuan untuk memperlambat pengambilan keputusan secara sadar, ketika situasi memang membutuhkannya, justru mulai menjadi semakin penting hari ini.
Karena pada akhirnya, governance yang baik bukan governance yang hanya terlihat baik di atas kertas.
Governance yang baik adalah governance yang benar-benar tetap mampu menjalankan fungsi govern-nya ketika organisasi sedang berada di bawah tekanan untuk bergerak cepat.



Comments