Strategi yang Baik, Governance yang Lemah
- 2 hari yang lalu
- 3 menit membaca
Saya sering melihat organisasi dengan strategi yang sebenarnya masuk akal.
Arahnya jelas. Analisisnya kuat. Presentasinya meyakinkan. Semua terlihat siap dijalankan.
Pada saat keputusan itu diambil, tidak ada yang terasa keliru.
Namun beberapa tahun kemudian, hasilnya jauh dari yang dibayangkan. Target tidak tercapai. Risiko yang dulu dianggap kecil justru menjadi masalah utama. Energi organisasi habis untuk memperbaiki sesuatu yang sebenarnya bisa diantisipasi sejak awal.
Di titik itu, pertanyaan yang muncul biasanya sederhana: apakah strateginya salah?
Sering kali, menurut saya, bukan itu persoalannya.
Yang lebih menentukan adalah bagaimana keputusan itu diambil.
Dalam banyak ruang rapat yang pernah saya ikuti, keputusan besar kadang disetujui terlalu cepat.
Semua tampak sepakat. Tidak ada yang benar-benar menguji asumsi utama. Risiko dibahas, tetapi lebih sebagai bagian dari format presentasi. Skenario terburuk disebutkan, lalu dilewati dengan keyakinan bahwa semuanya masih dalam kendali.
Rapatnya berjalan lancar. Efisien. Tidak ada ketegangan yang berarti.
Dan justru itu yang sering membuat saya berhenti sejenak.
Bukan karena tidak ada strategi. Tetapi karena tidak ada cukup kedalaman dalam mengujinya.
Saya semakin percaya bahwa banyak organisasi tidak kekurangan strategi. Mereka kekurangan disiplin dalam mempertimbangkan konsekuensi.
Optimisme itu penting. Tanpa optimisme, organisasi tidak bergerak. Tetapi ketika risiko hanya dipahami secara umum—tanpa benar-benar dipikirkan dampaknya terhadap reputasi, likuiditas, struktur permodalan, atau keberlanjutan institusi—keputusan menjadi rapuh.
Di atas kertas, semuanya terlihat rasional.
Dalam praktik, kompleksitasnya jauh lebih besar.
Dan sering kali, kompleksitas itu baru terasa ketika ruang untuk koreksi sudah menyempit.
Ada satu pola lain yang berulang: harmoni yang terlalu nyaman.
Semua ingin mendukung. Semua ingin terlihat sejalan. Tidak ada yang ingin dianggap memperlambat momentum.
Padahal governance yang sehat memang tidak selalu nyaman.
Challenge bukan berarti tidak percaya.
Pertanyaan sulit bukan berarti pesimis.
Justru sebaliknya. Itu cara institusi menjaga dirinya sendiri.
Ada perbedaan besar antara mendukung strategi dan menyetujuinya tanpa benar-benar menguji.
Saya juga sering melihat keputusan diambil tanpa kejelasan tentang bagaimana ia akan dievaluasi.
Apa indikator keberhasilannya?
Kapan kita harus mengkaji ulang arah?
Siapa yang secara eksplisit diberi ruang untuk mengatakan bahwa asumsi awal sudah tidak relevan?
Tanpa disiplin seperti ini, strategi perlahan berubah menjadi komitmen emosional. Organisasi bertahan bukan karena keputusan itu masih tepat, tetapi karena sudah terlalu jauh melangkah untuk mundur.
Di sinilah governance benar-benar diuji—bukan pada saat strategi disusun, tetapi pada saat realitas mulai berbeda dari rencana.
Bagi board dan pimpinan, mungkin pertanyaannya bukan lagi apakah strateginya menarik atau ambisius.
Yang lebih penting adalah: apakah proses pengambilannya cukup jujur?
Apakah ada ruang untuk dissent yang sehat?Apakah risiko benar-benar dipahami, bukan sekadar disebutkan?Apakah alasan di balik keputusan terdokumentasi dengan jelas, sehingga bisa ditinjau ulang secara objektif?
Institusi yang matang biasanya tidak alergi terhadap pertanyaan sulit. Mereka memisahkan ego dari kepentingan organisasi. Mereka tahu bahwa memperlambat sedikit di awal sering kali menyelamatkan banyak hal di kemudian hari.
Dan mereka berani mengoreksi arah sebelum tekanan eksternal memaksa mereka melakukannya.
Banyak krisis tidak muncul dari satu keputusan besar yang jelas-jelas salah.
Ia tumbuh dari serangkaian keputusan yang tidak cukup diuji.
Asumsi kecil yang tidak dipertanyakan.
Optimisme yang tidak ditantang.
Risiko yang dianggap “unlikely” tanpa benar-benar dihitung dampaknya.
Dalam retrospektif, semuanya terasa jelas. Namun pada saat keputusan dibuat, suasana ruangannya sering terlalu nyaman untuk benar-benar melihat ketidakpastian itu.
Dan di sanalah kualitas kepemimpinan institusional diuji.
Strategi yang baik tetap penting. Tanpa arah yang jelas, organisasi akan kehilangan fokus.
Namun pengalaman menunjukkan bahwa kegagalan sering kali bukan soal strategi yang buruk. Lebih sering, itu soal governance yang tidak cukup berani dan tidak cukup dalam.
Bukan karena pimpinan tidak cerdas.
Tetapi karena proses pertimbangannya tidak cukup serius terhadap konsekuensi.
Pada akhirnya, kualitas sebuah institusi tidak hanya ditentukan oleh apa yang diputuskan, tetapi oleh seberapa sungguh ia menguji dirinya sendiri sebelum melangkah.
Dan sering kali, yang membuat perbedaan bukan kecanggihan strategi, melainkan kedewasaan dalam memutuskan.




Komentar